Berwisata Religi Kecmatan Kaliwungu-Kendal.
( tugas makalah mata kuliah Geografi pariwisata : analisis potensi pariwisata )
Dosen Pengampu :
Drs. Apik Budi Santoso M.si
Oleh : Siti Jamilah
3201411063
PRODI PENDIDIKAN GEOGRAFI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pariwisata adalah kegiatan seseorang dari tempat tinggalnya untuk berkunjung ke tempat lain dengan perbedaan waktu kunjungan dan motivasi kunjungan (ndust, 1986). Menurut Pandit (l990), pari-wisata adalah salah satu jenis ndustry baru yang mampu meng-hasilkan pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam penyediaan lapangan kerja, peningkatan penghasilan, standart hidup serta menstimulasi sektor-sektor produktifitas lainnya. Selanjutnya sebagai sektor yang komplek juga meliputi ndustry-industri klasik yang sebenarnya seperti ndustry kerajinan dan cinderamata, penginapan dan transportasi, secara ekonomis juga dipandang sebagai ndustry.
Selanjutnya arti dari wisatawan adalah perjalanan seseorang yang karena terdorong oleh suatu atau beberapa keperluan melakukan pejalanan dan persinggahan lebih dari 24 jam di luar tempat tinggalnya, tanpa bermaksud mencari nafkah (Anonymous, 1987). Secara harfiah “rekreasi “ berarti “re – kreasi”, yaitu kembali kreatif. Sedang rekreasi itu sendiri merupakan kegiatan (bahkan kegiatan itu direncanakan) dan dilaksanakan karena seseorang ingin melaksanakan. Jadi dapat diartikan usaha atau kegiatan yang dilaksanakan pada waktu senggang untuk mengembalikan kesegaran fisik (Clawson dan Knetsch, 1966 dalam Basuni dan Sudargo, 1988). Basuni dan Soedargo (1988), menambahkan kegiatan rekreasi dapat dibedakan menurut sifatnya yaitu rekreasi aktif dan rekreasi pasif. Rekreasi aktif adalah rekreasi yang lebih berorientasi pada manfaat fisik daripada mental, sedang rekreasi pasif adalah rekreasi yang berorientasi pada manfaat mental dari pada fisik.
Potensi wisata religi yang ada di kota Kendal sangat banyak macamnya namun dalam makalah ini penulis hanya akan menyajikan tentang potensi wisata kecamatan kaliwungu kabupaten Kendal dengan slogan nya sebagai kota Beribadat. Dalam potensinya kota kecamtan kaliwungu telah berperan penting dalam perkembangannya pada masa penjajahan Belanda dan dalam pengaruh masuknya Budaya serta agama islam di kecamtan kota kaliwungu-kendal. Di kecamatan kaliwungu potensi wisata religinya sudah terkenal, namun dalam pengelolaannya masih kurang dari perhatian pemerintah, itu beberapa alas an penulis memilih tema ; Berwisata Religi Kecmatan Kaliwungu-Kendal.
B. Tujuan
1. Mengetahui sejarah singkat Kecamatan Kaliwungu-Kendal
2. Mengetahui daya tarik wisata di Kecamatan Kaliwungu-Kendal
3. Mengetauhui beberapa tempat wisata religi di Kecamatan Kaliwungu-Kendal
4. Mengetahui Kuliner Khas Kecamatan Kaliwungu-Kendal
5. Mengetahui kondisi transportasi akomodasi, pelayanan, infrastruktur, dan wisatawan yang ada di Kecamatan Kaliwungu-Kendal
C. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah sejarah singkat Kecamatan Kaliwungu-Kendal
2. Apa daya tarik wisata di Kecamatan Kaliwungu-Kendal
3. Ada berapa tempat wisata religi di Kecamatan Kaliwungu-Kendal
4. Apakah Kuliner Khas Kecamatan Kaliwungu-Kendal
5. Bagaimanakah kondisi transportasi akomodasi, pelayanan, infrastruktur, dan wisatawan yang ada di Kecamatan Kaliwungu-Kendal
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah singkat Kecamatan Kaliwungu-Kendal
Sejarah singkat kota kecamatan kaliwungu Kendal, Kaliwungu adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah. Kecamatan ini berbatasan langsung dengan Semarang, tepatnya di sebelah barat Kota Semarang, Indonesia. Kaliwungu terkenal dengan sebutan kota santri dikarenakan di kecamatan tersebut terdapat puluhan pondok pesantren. Pemberian nama Kaliwungu diambil dari peristiwa seorang guru (Sunan Katong) dan muridnya (Pakuwojo) yang berkelahi di dekat sungai karena perbedaan prinsip. Dari pertengkaran itu terjadi pertumpahan darah yang menurut cerita, Sunan Katong berdarah biru dan Pakuwojo berdarah merah, keduanya wafat dalam perkelahian itu dan darahnya mengalir di sungai sehingga berubah menjadi ungu. Sampai saat ini belum ada ketetapan resmi mengenai hari jadi kabupaten Kendal dan Kaliwungu. Pemerintah daerah tingkat II Kendal dahulu pernah memutuskan hanya mengenai symbol kota kabupaten Kendal yaitu kendil wesi, dalam hal ini ada riwayatnya tersendiri. Sekitar tahun 1977 pernah membentuk team tetapi tugasnya khusus hanya untuk menggali sejarah perjoangan rakyat daerah kabupaten Kendal melawan penjajah Belanda.
Beberapa informasi dan cerita cerita rakyat banyak yang meragukan, meskipun demikian penulis tiada jalan meneruskan pengamatannya dengan mengumpulkan data data sejarah dan informasi informasi yang dianggap wajar, kemudian tersusun sebagai berikut :
1. Sultan Demak Ke Ii
Setelah sultan Demak ke I Raden Patah mangkat, digantikan putera sulungnya bernama pangeran Surya atau adipati Yunus (Jepara) atau disebut juga pangeran Sabrang Lor.
2. Ki Pandanarang I
Setelah Sultan Demak II (Pati Yunus) mangkat, puteranya yang tertua, pangeran Made Pandan tidak bersedia menggantikan tahta kesultanan Demak. Di pulau Tirang inilah beliau sebagai mubaligh mulai menyebarkan agama Islam terhadap penduduk yang masih memeluk agama Hindu/Budha, di samping mengajarkan pula bercocok taman. Karena ketekunannya Pangeran Made Pandan dapat menundukkan mereka dan akhirnya masuk Islam. Di pulau Tirang terdapat tanaman pandan tetapi jarang (arang-arang-jawa), akhirnya di tempat tersebut disebut pandanarang, adapun pangeran Made Pandan disebut Ki Pandanarang. (I). Pangeran Made Pandan kawin dengan Sejanila, menurut sementara sejarah adalah putera Pangeran Panduruan di Sumenep (keturunan Raden Patah). Ki Pandanarang, sekarang disebut Pragota atau Bregoto; makam Nyi Sejanila juga berada di Bregoto.
3. Jumenengan Bupati Semarang Ke I
Di sekitar Pragota(Bregoto) terdapat tanaman asam tetapi jarang-jarang (arang-arang); akhirnya wilayah ini di sebut semarang, asal dari kata-kata Asem-arang, dan disini sudah mulai banyak penduduknya. Sunan Kalijogo (Raden Sahid) seorang wali yang terkenal namanya diantara Sembilan Wali dari Demak berkehendak mengangkat putra sulung Ki Pndanarang I (Made Pandan) yang bernama pangeran kasepuhan untuk menjabat bupati di Semarang; maksud ini direstui oleh Sultan Pajang Hadiwijoyo, terlaksana pangeran kasepuhan diangkat menjadi bupati di semarang yang pertama dengan gelar Ki Pandanarang II. Bupati Semarang ke I ini wataknya kikir dan silau akan harta, akan tetapi Sunan Kalijaga dapat meramalkan bahwa di kemudian hari Ki Pandanarang II dapat menjadi wali sebagai ganti Syeh Siti Jenar. Dengan tindakan dan cara yang bijaksana sunan Kalijaga dapat menyadarkan Ki Pandanarang II akan wataknya yang tidak baik itu, dan akhirnya beliau menyerahkan diri dan bertaubat. Selanjutnya Sunan Kalijaga beliau diperintahkan supaya meninggalakan kamukten sebagai Bupati; akhirnya beliau bersama keluarganya hijrah dan menetap di Tembayat;disini beliau di tugaskan sebagai mubaligh menyebarkan agama Islam, akhirnya disebut sunan Tembayat. Kira-kira tahun 1563 H. beliau wafat, dimakamkan di gunung jabalkat. Setelah Ki Pandanarang II hijrah, kedudukan Bupati Semarang dig anti adiknya, pangeran Kanoman, dengan gelar Ki Pandanarang III sebagai Bupati Semarang.
4. Batara Katong Masuk Islam
Batara Katong adalah adipati Ponorogo; menurut sementara sejarah/cerita, beliau adalah putera yang ke 24 dari prabu Browijoyo V dari Majapahit (Kertobumi), jadi adik raden Patah Sultan Bintoro Demak. Batara Katong memeluk agama Hindu;Batara Katong menerma anjuran dari Raden Patah untuk memeluk Islam, anjuran itu diterima tetapi akan dipenuhi setalah ayahandanya mangkat; setelah ayahanda mangkat, Batara Katong tidak menepati janjinya dan selalu menagguhkan waktunya. Akhirnya Batara Katong menerima Ilham ( wangsit) dari
Tuhan dan dapat petunjuk supaya meninggalkan kamukten sebagai adipati dan supaya berguru ke Pulau Tirang, maka berangkatlah Batara Katong menuju kearah yang du tunjukkan menurut wangsit itu, yaitu ke Pulau Tirang, berguru kepada Ki Pandanarang I (Made Pandan) dan masuk Islam setelah dianggap cukup dalam mempelajari agama Islam. Dalam perjalanannya beliau sampai di suatu sungai (Kali), berhenti beristirahat, akhirnya tiduran tepat dibawah pohon yang warnanya ungu (wungu); akhirnya di tempat itu di sebut desa kaliwungu, sedang sungainya disebut kali sarean, masih ada hingga sekarang. Jadi itulah asal usul nama desa Kaliwungu.
5. Penyiaran Agama Islam Di Kaliwungu
Karena desa kaliwungu dan sekitarnya penduduknya belum memeluk agama Islam, maka Batara Katong mulai mengembangkan agama Islam, beliau bermukim dibukit Penjor. Setelah tugas penyiaran agama Islam Nampak berhasil dan banyak muridnya, maka beliau mendirikan mesjid ditempat yang disebut sawah jati, tempat ini sekarang tidak Nampak bekasnya. Sejak itulah Batara Katong di sebut sunan Katong. Di tengah kota Kaliwungu sekarang ada jalan yang diberi nama Sawah jati ; mungkin nama jalan ini mengambil dari sejarah bahwa distitu dahulunya tempat didirikan masjid yang permata oleh Batara Katong. Setelah Sunan Katong wafat dimakamkan ditempat yang dulu disebut togal sawah, yang dikenal sekarang adalah makam Protowetan termasuk desa Protomulyo; makam tersebut tidak jauh dari bukit Penjor. Di komplek makam ini dimakamkan pula para tokoh Islam, makam tersebut dimuliakan oleh rakyat dan tiap than di ziarahi besar besaran oleh rakyat kaliwungu dan dari lain daerah tiap tiap tanggal 7 syawwal, disbut syawwalan. Mengenai sunan Katong atau Batara Katong dan makamnya yang ada di protowetan kec. Kaliwungu sering timbul pertanyaan dan keraguan, benarkan tokoh Islam yang disebut Sunan Katong itu identitas dengan Batara katong Adipati Ponorogo? Karena Diponegoro terdapat pusara/kubur Batara Katong. Karena menurut catatan atau Memorires van Pangeran Ario Notohamiprojo Ragent van Kendal, halaman 91 menunjukkan pada waktu mudanya P.A. Notohamiprojo pernah mengikiti perjalanan dalam rangka peninjauan Prins Frederik Henderik cucuu raja Nederland ke pulau jawa bulan juni 1837, sehingga meninjau kuburnya Batara Katong di ponorogo. Jadi istilah kubur di artikan adalah tempat jenazah di kebumikan. Hanya menurut kepercayaan rakyat di Kaliwungu sangat percaya bahwa pusara Sunan Katong adalah di Protowetan, lepas dari pemikiran apakah Sunan Katong itu identitas dengan Batara Katong atau bukan.
6. Kyai Guru Penerus Penyiaran Agama Islam
Setelah sunan Katong wafat, maka datanglah pada tahun 1560 M. di kaliwungu seorang ulama asal mataram bernama Kyai Haji Asy’ari, beliau pernah bermukim di mekkah untuk memperdalam ajaran Islam. Di Kaliwungu beliau menyiarkan agama Islam, jadi beliau adalah seorang yang pertama kali debagai penerus pengembangan Islam setelah Sunan Katong wafat. Kyai Asy’ari dalam penyarannya agama Islam di Kaliwungu mendapat kemajuan, muridnya bertambah banyak, tidak saja dari desa Kaliwungu tetapi juga dari lain desa. Selanjutnya Kyai Asy’ari mendirikan rumah pesantren dan juga sebagai tempat tinggalnya yang tetap; akhirnya Kyai H. Asy’ari di sebut Kyai Guru. Karena bekal ilmu yang di peroleh selama bermukim di mekkah, maka dalam memberikan pelajaran agama Islam juga lebih luas; tidak hanya di bidang ketauhidan saja tetapi juga dibidang lain mengenai syariat agama Islam, sedang masa Sunan katong yang di tanamkan khusus di bidang ketaukhidan/keimanan pada Tuhan Yang Maha Esa, sesuai pada keadaan pada masa itu.
7. Kyai Guru Pendiri Masjid Jami’ Kaliwungu
Menurut kisah yang di muat dalam bros ur Syawalan terbitan 1977 menyebutkan bahwa Kyai Guru adalah pendiri masjid Jami’ di Kaliwungu. Dahulu bentuk masjid itu tentu saja masih sangat sederhana bangunannya. Sekarang sudah mengalami pemugaran lima kali di bawah pimpinan keturunan Kyai Guru. Pemugaran pertama pada tahun 1653 di bawah pimpinan Kyai Haji Mohammad, pada sekitar zamannya Bupati kaliwungu Tmg. Wirosoco atau masa ngabei Metoyudo dan Tmg. Wongsodiprojo.
B. Daya tarik wisata di Kecamatan Kaliwungu-Kendal
Daya tarik yang ada di kecamatan Kaliwungu Kendal Jawa Tengah wisata religi. karena Daerah yang berdekatan dengan kota Semarang ini adalah daerah yang terkenal dengan kota santri. Sebutan tersebut memang tidak berlebihan. Pasalnya, di Kaliwungu terdapat puluhan pondok pesantren. Salah satu kiai besar, KH. Dimyati Rois, juga tinggal ditempat tersebut. Nama Kaliwungu diambil dari peristiwa seorang guru (Sunan Katong) dan muridnya (Pakuwojo) yang berkelahi di dekat sungai karena perbedaan prinsip. Dari pertengkaran itu terjadi pertumpahan darah yang menurut cerita, Sunan Katong berdarah biru dan Pakuwojo berdarah merah, keduanya wafat dalam perkelahian itu dan darahnya mengalir di sungai sehingga berubah menjadi ungu.
Tempat wisata religi yang sering dikunjungi oleh masyarakat adalah masjid Agung Kaliwungu. Pada malam hari, di Kaliwungu ini, tepatnya di alun-alun depan masjid, banyak para padagang yang menjajakan dagangannya. Mulai buku bekas, kaset, cd, buah-buahan, pakaian, tas, hingga nasi kucing.
Masjid yang terletak di sisi kanan alun-alun Kaliwungu ini dikenal masyarakat sekitar didirikan oleh KH. Asy'ari. Meski begitu, ada bantahan dari penulis buku Babad Tanah Kendal, Hamam Rohani. Menurut Hamam, masjid Agung Kaliwungu didirikan pada tahun 1653 oleh bupati Kaliwungu saat itu. Alasan Hamam, karena Kyai Asy'ari menurut sejarah datang di Kaliwungu pada tahun 1780-an.Makam Selain masjid Agung Kaliwungu, yang juga banyak dikunjungi oleh
masyarakat adalah makam-makam para kyai yang dikenal sebagai penyebar agama Islam. Mereka datang dengan tujuan berziarah. Di antaranya makam Kiai Guru atau Kiai Asy'ari, Sunan Katong, Kiai Mustofa, dan Wali Sya'fak. Makam ini terletak di desa Protomulyo, yang jaraknya sekitar 2 kilometer dari masjid Agung Kaliwungu. Karena jalan menuju ke makam cukup tinggi, Anda bisa naik ojek, dengan biaya paling mahal 10.000 rupiah. Yang menarik di Kaliwungu ini adalah pada perayaan syawalan. Pasalnya, pada perayaan syawalan ini, yang mengunjungi makam para kyai tersebut, jumlahnya ribuan orang. Tidak hanya masyarakat Kaliwungu sekitarnya, tapi juga masyarakat dari luar kota.
Di desa Kutoharjo yang merupakan pusat kota Kaliwungu, teryata menyimpan potensi alam, budaya dan religi yang sangat kuat. Potensi tersebut dapat dilihat jika kita berada di kawasan perbukitan yang dikenal dengan bukit Jabal. Selain memiliki panorama yang cukup indah,disana juga terdapat kompleks makam para Waliyullah seperti KH. Musyaffa, KH. Mustofa, KH. Abu Khoer. Disebelah selatan juga terdapat kompleks makam Sunan Katong serta kompleks makam KH. Asy’ari (Kyai Guru). Mereka semua memiliki peranan yang sangat besar bagi pengembangan Islam di Kaliwungu Kabupaten Kendal, yang setiap tahun diperingati dalam acara Khoul Syawalan.
C. Kuliner Khas Kecamatan Kaliwungu-Kendal
Membahas masalah kuliner Klaiwungu punya andalannya di kala menyambut bulan puasa yaitu Telur Ikan Mimi, yang merupakan sejenis ikan pari dengan cangkang keras yang diolah dengan campuran parutan kelapa muda dan diberi bumbu pedas. Biasanya yang tidak bertelur atau ikan mimi kecil, diambil dagingnya untuk dicampur dengan parutan kelapa. Cara penyajiannya sangat khas, telur ikan mimi dikerok dari cangkang kemudian dicampur parutan kelapa muda yang sudah diberi bumbu. Untuk satu plastik kecil telur mimi di jual Rp 2.000 namun tidak jarang pedagang menjual secara utuh satu ekor mimi seharga Rp 40 ribu. Makanan ini menjadi lebih special lagi karena hanya bisa dijumpai menjelang bulan Ramadhan dan tidak dijual pada hari hari lainnya. Di Kaliwungu Kendal menjelang bulan Ramadhan, ada tradisi yang cukup unik, dimana ratusan warga menyerbu festival kuliner di depan Masjid Al Muttaqin Kaliwungu demi mendapatkan makanan yang hanya ada sehari sebelum puasa. Warga merasa jika tidak makan telur ikan mimi, ibadah puasa yang akan dilalui menjadi kurang afdol.
Selain itu juga terdapat Krupuk goreng Wedhi (krupuk yang di goreng dengan pasir bersih),banyak di perdagangkan di depan Masjid Kaliwungu. Ada juga sumpil dan mie pelangi yang bisanya hanya di sajikan pada acara wewehan.Wewehan yaitu saling menukar jajanan dan makanan. Para masyarakat sekitar harus berjalan menuju rumah satu ke rumah lainnya untuk memberikan jajanan dan makanan. Selanjutnya ditukar kembali dengan jajanan dan makanan yang mereka bawa dari rumah masing-masing. Setiap warga disini membuat makanan, baik itu jajan pasar maupun makan modern. Makanan tersebut akan dibagikan pada warga lainnya. Acara wewehan dimulai pukul 16.00 WIB sampai dengan menjelang waktu shalat Magrib. Tradisi 'wewehan' ini sudah menjadi budaya Islam (urf) yang dilakukan warga setempat. Orang akan disibukkan dengan memasak makanan untuk wewehan nanti sore. Biasanya banyak makanan khas Kaliwungu yang hanya ada pada wewehan, seperti sumpil. Makanan sumpil terbuat dari gandum, tepung terigu, obat warna makanan, pemanis gula dan kelapa parutan. Makanan ini disajikan saat tamu datang ke rumah. Juga ada jajanan seperti nagasari yang berbahan dasar tepung terigu dan pisang dengan terbungkus daun pisang. Setelah waktu shalat Asyar tiba, ribuan warga mulai ramai datang silih berganti memasuki rumah membawa makanan dan jajanan. Masyarakat yang datang dari luar daerah disajikan makanan dan jajanan yang telah saling menukar tersebut. Racham warga Kota Semarang mendatangi tempat saudara di desa Semburejo setempat. Dia beralasan untuk silaturahmi dengan kerabatnya yang tidak pernah bertemu cukup lama dan sekaligus ingin melihat ramainya tradisi wewehan. "Moment seperti ini dijadikan sebagai menyambung tali persaudaraan dan sekaligus menikmati jajanan sumpil yang dhidangkan tuan rumah," ucap dia.
D. Kondisi transportasi akomodasi, pelayanan, infrastruktur, dan wisatawan yang ada di Kecamatan Kaliwungu-Kendal
Kondisi transportasi di Kecamatan kaliwungu ini sangat strategis sekali karena merupakan perbatasan antara semarang dan Kendal di bagian timur , untuk bagian barat berbatasan dengan kabupaten Batang. Apalagi area masjid agung kaliwungu ini dilalui oleh jalan utama dan beberapa jalan kecil menuju makam ziarah. jika pembaca ingin berkunjung ke kaliwungu darisemarang, anda tinggal naik Brt lalu turun di mangkang kemudian naik bis arah k kaliwungu. Infratrukturnya masih belum memadai namun banyak wisatawan yang lalu lalang dengan bis luar kota kaliwungu untuk berziarah (wisata religi), pelayanan para pedagangnyapun sangat ramah.
BAB III
PENUTUP
Ø Kesimpulan
Di kota santri kaliwungu merupakan kota tepat berwisata religi. Dimana di kaliwungu terkenal akan Masjid Agung Kaliwungu dan bebrapa makam yang di segani oleh masyarakatnya. Tidak hanya itu juga di kaliwungu memiliki daya tariknya pada acara menjelang maulid (wehwehan), dan pada waktu menyelang puasa pertama banyak dijual ikan mimi. lalu setelah lebaran usai biasanya terdapat istilah sebagai syawalan dimana seluruh pedagang berkumpul dan membuka lapak di deretan Masjid agung Kaliwungu tidak hanya itu juga tapi antusiasme masyarakat dalam mengikuti syawalan yang dapat mempertemukan pada kawan lamanya dan lain sebagainya.
Kondisi transportasi di Kecamatan kaliwungu ini sangat strategis sekali karena merupakan perbatasan antara semarang dan Kendal di bagian timur , untuk bagian barat berbatasan dengan kabupaten Batang.
Daftar Pustaka
Budi santoso.2006.Buku diktat kuliah”geografi pariwisata”.Semarang : unnes
News (http://news.kompas.com) / Travel(20-4-14)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar